Bondansari
Selamat Datang di Laman Resmi Desa Bondansari

Legenda Dan Keunikan Desa Bondansari

Legenda Dan Keunikan Desa Bondansari

12 Januari 2026

Setiap desa memiliki cerita yang menyimpan nilai historis, budaya, dan tradisi yang tak ternilai harganya. Kisah masa lalu sebuah desa bukan hanya sekadar narasi, tetapi menjadi cermin identitas, inspirasi, dan kebanggaan bagi generasi masa kini. Desa Bondansari, yang terletak di Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan, adalah salah satu contoh nyata bagaimana sejarah membentuk karakter dan struktur masyarakat hingga menjadi seperti sekarang.

 

Bondansari bukan hanya sekadar nama sebuah desa, tetapi juga saksi bisu dari perjalanan panjang masyarakat yang hidup di dalamnya. Dari era penjajahan Belanda dengan kerja rodi yang membangun Jalan Raya Pos hingga interaksi antara tokoh-tokoh lokal yang mencampurkan nilai-nilai tradisional kejawen dan Islam, Bondansari telah melalui transformasi budaya dan sosial yang kompleks. Situs-situs seperti makam Gendung Joyo dan Rogo Temangsang di Dukuh Gendogo menjadi bukti nyata warisan sejarah yang masih dirawat hingga kini.

 

Urgensi menjaga dan mengisahkan sejarah desa seperti Bondansari terletak pada upaya melestarikan warisan leluhur, membangun kesadaran generasi muda terhadap akar budayanya, serta menguatkan jati diri sebagai masyarakat yang kaya akan nilai-nilai tradisional. Selain itu, cerita-cerita masa lalu juga dapat menjadi modal sosial dan budaya untuk mendorong kemajuan desa di tengah arus modernitas yang semakin cepat.

 

Dengan menengok sejarahnya, Bondansari menawarkan pelajaran penting tentang bagaimana harmoni antara masa lalu dan masa kini dapat dirawat dan dihidupkan. Kehidupan yang dipengaruhi oleh nilai-nilai spiritual, tradisi lokal, dan kemajuan zaman menjadikan Bondansari bukan hanya desa yang bertahan, tetapi juga berkembang dengan identitas yang kuat.

 

Profil Desa Bondansari

Terletak di Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan, Desa Bondansari adalah salah satu kawasan yang unik. Desa ini berada di wilayah transisi, menjadi jembatan antara kehidupan perkotaan yang dinamis dan suasana pedesaan yang khas. Letaknya yang strategis di jalur Pantura menjadikan Bondansari sebagai bagian penting dari wilayah ini, sekaligus menyimpan sejarah dan tradisi yang kaya.

Desa Bondansari memiliki posisi geografis yang istimewa. Di sebelah utara, desa ini berbatasan dengan Desa Siwalan, sementara di sisi timur, Desa Kampil menjadi tetangganya. Sebelah selatan, Desa Blimbingwuluh mengapitnya, dan di barat, Desa Pait melengkapi batas wilayahnya. Dengan luas sekitar 141 hektare, desa ini membentang di dataran rendah, berada 800 meter di atas permukaan laut. Wilayah pertaniannya yang mencapai 71 hektare mencerminkan potensi agrikultur yang luar biasa.

 

Sejarah Panjang Desa Bondansari

Sejarah Desa Bondansari berakar pada masa kolonial Belanda sekitar tahun 1800-an, ketika Gubernur Jenderal Daendels membangun Jalan Raya Pos yang membentang dari Anyer hingga Panarukan. Pada masa itu, kerja paksa atau kerja rodi menjadi pemandangan umum, dan desa-desa di sekitar jalur tersebut turut terlibat dalam pembangunan infrastruktur ini. Meskipun berat, periode tersebut menjadi tonggak awal terbentuknya Bondansari sebagai sebuah wilayah dengan jejak sejarah yang kaya.

Di tengah dinamika masa tersebut, hidup dua tokoh bernama Gendung Joyo dan Rogo Temangsang yang menetap di sebuah wilayah yang kini dikenal sebagai Dukuh Gendogo. Berdasarkan cerita rakyat, kedua tokoh ini dikenal sebagai sosok sakti mandraguna. Mereka memilih bermukim di bawah sebuah pohon besar yang oleh masyarakat setempat dinamakan Pohon Kendogo. Pohon ini kemudian menjadi landmark penting yang menandai keberadaan Dukuh Gendogo.

 

Pembentukan Dukuh-Dukuh di Bondansari

Nama-nama dukuh di Desa Bondansari tidak hanya sekadar penanda geografis, tetapi juga memiliki makna filosofis yang mencerminkan sejarah, tradisi, dan potensi wilayah tersebut. Kisah-kisah yang melatarbelakangi penamaan ini menunjukkan bagaimana perjalanan para pendiri desa menjadi inspirasi dalam membangun identitas budaya yang kuat hingga saat ini.

 

  1. Dukuh Gendogo: Simbol Awal Peradaban

Dukuh Gendogo menjadi titik awal perjalanan sejarah Bondansari. Nama ini berasal dari Pohon Kendogo, sebuah pohon besar yang tumbuh subur di wilayah tersebut pada masa lampau. Pohon ini bukan hanya sekadar flora biasa, melainkan menjadi pusat kehidupan bagi Gendung Joyo dan Rogo Temangsang, yang memilih wilayah ini sebagai tempat bermukim pertama.
Pohon Kendogo memberikan makna simbolis sebagai sumber perlindungan dan kehidupan. Dalam tradisi masyarakat Jawa, keberadaan pohon besar sering diasosiasikan dengan kekuatan alam yang melindungi dan memberikan energi positif. Dukuh Gendogo tidak hanya dikenal sebagai tempat bersejarah tetapi juga sebagai representasi awal mula kehidupan yang harmonis dengan alam.

 

  1. Dukuh Bondan: Lambang Kesederhanaan dan Kemakmuran

Nama Dukuh Bondan berasal dari kata "Kebon Pandan," yang merujuk pada sebuah kebun yang penuh dengan tanaman pandan. Tanaman pandan memiliki banyak manfaat bagi masyarakat, mulai dari bahan makanan hingga pewangi alami. Bagi Gendung Joyo dan Rogo Temangsang, kebun pandan tersebut menjadi simbol kesederhanaan hidup dan kelimpahan sumber daya alam. Makna filosofi nama ini menggambarkan bagaimana masyarakat setempat memanfaatkan alam dengan bijaksana tanpa merusaknya. Dukuh Bondan juga menjadi pengingat bahwa kemakmuran bisa diperoleh dari hal-hal sederhana, asalkan dikelola dengan penuh syukur dan kerja keras.

 

  1. Dukuh Penggilingan: Jejak Sejarah dan Perjuangan

Nama Dukuh Penggilingan terinspirasi dari keberadaan alat penggilingan batu (molen) yang digunakan pada masa penjajahan Belanda untuk membangun Jalan Raya Pos Anyer-Panarukan. Nama ini mengandung cerita tentang masa-masa kerja rodi yang berat, di mana penduduk setempat turut berperan dalam pembangunan infrastruktur penting tersebut.

Dukuh Penggilingan menjadi simbol perjuangan dan ketangguhan masyarakat Bondansari dalam menghadapi tantangan zaman. Nama ini juga mengingatkan generasi berikutnya tentang pentingnya menghargai sejarah, karena dari perjuangan di masa lalu itulah masyarakat kini dapat menikmati kemajuan.

 

  1. Dukuh Kebonan: Harmoni dengan Alam

Dukuh Kebonan, yang awalnya merupakan kawasan hutan lebat, mendapatkan namanya dari istilah "Kebon Raya." Hutan ini dulu menjadi rumah bagi berbagai flora dan fauna, memberikan ekosistem yang kaya dan asri. Nama Kebonan menggambarkan keasrian lingkungan yang menjadi ciri khas wilayah tersebut.
Secara filosofis, Dukuh Kebonan mengajarkan pentingnya menjaga hubungan yang harmonis dengan alam. Hutan tidak hanya menjadi sumber daya material, tetapi juga memberikan manfaat tak langsung seperti keseimbangan ekosistem dan udara yang bersih. Hingga kini, masyarakat Dukuh Kebonan berusaha menjaga warisan leluhur ini dengan tetap melestarikan lingkungan sekitar.

 

Makna Kolektif dari Nama-Nama Dukuh

Nama-nama dukuh di Bondansari menjadi cerminan perjalanan kehidupan, mulai dari awal peradaban, pemanfaatan sumber daya alam, perjuangan melawan tantangan, hingga menjaga harmoni dengan lingkungan. Setiap nama memiliki cerita unik yang membentuk identitas desa dan menjadi pengingat bagi masyarakat tentang nilai-nilai kearifan lokal.

Keempat dukuh ini tidak hanya menjadi bagian dari sejarah, tetapi juga menjadi dasar filosofi bagi masyarakat Bondansari dalam menjalani kehidupan yang berakar pada budaya, tradisi, dan rasa syukur atas karunia alam. Melalui pemahaman ini, desa mampu melangkah maju dengan tetap menjaga esensi dari nama-nama yang telah diwariskan oleh leluhur mereka.

 

Kehadiran Wiroguno dan Percampuran Budaya

Sejarah Desa Bondansari semakin kaya dengan kehadiran seorang tokoh baru bernama Wiroguno atau Semoro Guno, yang dipercaya sebagai utusan Sultan Agung dari Kerajaan Mataram. Wiroguno datang dengan membawa misi Islamisasi, yang kemudian mempertemukannya dengan Gendung Joyo dan Rogo Temangsang. Pertemuan tiga tokoh ini menciptakan interaksi antara nilai-nilai Kejawen yang dianut Gendung Joyo dan Rogo Temangsang dengan ajaran Islam yang dibawa Wiroguno.

Kolaborasi budaya dan agama ini memberikan dampak besar pada kehidupan masyarakat Bondansari. Hingga kini, tradisi Nyadran di Makam Gendung Joyo, Rogo Temangsang, dan Wiroguno masih dilestarikan setiap bulan Mulud menurut penanggalan Jawa. Tradisi ini menjadi simbol penghormatan terhadap leluhur sekaligus wujud syukur masyarakat atas keberkahan yang mereka terima. Acara Nyadran ini biasanya diiringi dengan berbagai kegiatan budaya, seperti kenduri dan doa bersama, yang mempererat hubungan antarwarga.

 

Penyatuan Wilayah Menjadi Desa Bondansari

Hasil dari pertemuan tiga tokoh tersebut adalah penyatuan empat dukuh - Gendogo, Bondan, Penggilingan, dan Kebonan - menjadi satu wilayah yang dinamakan Bondansari. Nama ini mengacu pada Kebon Pandan yang menjadi bagian integral dari sejarah dan kesejahteraan wilayah tersebut. Bondansari, yang berarti "Kebon Pandan yang sarat makna," mencerminkan keberagaman dan potensi desa dalam satu kesatuan harmoni.

Keputusan ini tidak hanya melibatkan aspek administratif tetapi juga mencerminkan filosofi kebersamaan dan persatuan yang menjadi dasar kehidupan masyarakat Bondansari. Para tokoh tersebut menyadari pentingnya sebuah identitas kolektif untuk menciptakan kesejahteraan bersama.

 

Potensi dan Tradisi Desa Bondansari

Hingga saat ini, Desa Bondansari terus berkembang sebagai desa yang tidak hanya mempertahankan tradisi leluhurnya tetapi juga membuka diri terhadap modernisasi. Tradisi Nyadran dan nilai-nilai kebersamaan tetap menjadi landasan kehidupan sosial masyarakatnya. Selain itu, Bondansari juga memiliki potensi besar di bidang pertanian, perikanan, dan usaha kecil yang terus didorong untuk meningkatkan kesejahteraan warga.

Di bidang pertanian, tanaman pandan masih menjadi simbol sejarah dan potensi ekonomi. Beberapa warga bahkan mengembangkan produk olahan dari pandan, seperti tikar dan anyaman, yang bernilai jual tinggi. Di sisi lain, lokasi strategis Bondansari di dekat Pantura memberikan peluang bagi pengembangan usaha kecil dan perdagangan lokal.

Keberadaan situs-situs bersejarah seperti Makam Gendung Joyo, Rogo Temangsang, dan Wiroguno memberikan nilai tambah bagi desa ini sebagai destinasi wisata religi dan budaya. Situs-situs ini tidak hanya menjadi tempat ziarah tetapi juga menawarkan pelajaran sejarah bagi para pengunjung yang ingin mengetahui lebih dalam tentang perjalanan panjang Bondansari.

Desa Bondansari tidak hanya kaya sejarah, tetapi juga memiliki potensi besar di berbagai bidang:

  • Pertanian: Dengan luas lahan pertanian yang signifikan, desa ini menghasilkan berbagai komoditas seperti padi dan tanaman hortikultura.
  • Tradisi dan Budaya: Nyadran di bulan Mulud menjadi daya tarik budaya yang terus dirawat oleh masyarakat.
  • Akses Strategis: Letaknya di jalur Pantura menjadikannya mudah diakses sekaligus mempertahankan karakter pedesaannya.

 

Masa Depan Desa Bondansari

Dengan potensi yang ada, Desa Bondansari memiliki visi besar: "Mewujudkan desa yang maju, berbudaya, dan sejahtera melalui pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan." Untuk mewujudkannya, misi desa meliputi:

  1. Peningkatan infrastruktur untuk mendukung perekonomian.
  2. Pelestarian budaya dan tradisi sebagai identitas masyarakat.
  3. Optimalisasi potensi agrikultur demi kesejahteraan bersama.
  4. Peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat.

Desa Bondansari terus bergerak maju, menjadi tempat yang tidak hanya dihuni tetapi juga dicintai oleh warganya. Sejarahnya yang panjang, tradisinya yang kaya, serta potensi alam dan manusianya membuat desa ini menjadi contoh harmoni antara kemajuan dan pelestarian budaya.

 

Kesimpulan

Desa Bondansari adalah contoh nyata bagaimana sejarah, tradisi, dan modernisasi dapat berjalan beriringan. Dengan menjaga nilai-nilai lokal yang diwariskan oleh para leluhur dan memanfaatkan potensi yang ada, Bondansari terus melangkah maju tanpa melupakan akarnya. Desa ini adalah cerminan kebanggaan dan identitas masyarakat Pantura yang kaya akan budaya dan sejarah.

Bondansari tidak hanya menawarkan keindahan alam dan tradisi, tetapi juga kisah-kisah inspiratif yang menjadi pelajaran bagi generasi masa kini. Dengan terus menjaga kearifan lokal dan membangun potensi desa, Bondansari dapat menjadi contoh desa yang sukses dalam merangkul masa lalu dan masa depan.

Kirim Komentar

CAPTCHA Image

Lihat Artikel Terbaru Lainnya

Pembangunan Betonisasi Jalan Belakang Makam Dusun Bondan Rampung 100 Persen, Akses Jalan Kini Mulus dan Siap Dilewati
12 Mei 2026
Pembangunan Betonisasi Jalan Belakang Makam Dusun Bondan Rampung 100 Persen, Akses Jalan Kini Mulus dan Siap Dilewati

BONDANSARI.OR.ID - Kabar gembira bagi warga Desa Bondansari. Proyek peningkatan infrastruktur berupa betonisasi jalan di Gg. RT 13 kini telah selesai dikerjakan. Jalan yang menjadi akses vital penghubung antara Dusun Bondan dan Dusun Penggilingan tersebut kini sudah dibuka sepenuhnya dan aman untuk dilintasi oleh masyarakat.   Berlokasi tepat di belakang Makam Dusun Bondan, wilayah RT 13 RW 05 Dusun Penggilingan, jalan yang sebelumnya ditutup untuk proses pengeringan kini tampil mulus, kokoh, dan memadai untuk mendukung mobilitas sehari-hari.   Pemerintah Desa (Pemdes) Bondansari memastikan pembangunan ini memenuhi standar kelayakan infrastruktur yang baik. Betonisasi menggunakan material beton siap pakai (Readymix) dengan mutu K225 yang diandalkan untuk ketahanan jangka panjang.   Secara fisik, jalan yang telah dirampungkan ini memiliki volume panjang 129 meter, lebar 2,3 meter, dengan ketebalan 15 sentimeter. Sepanjang proses pengerjaannya beberapa waktu lalu, Kepala Desa Bondansari juga telah turun langsung ke lokasi guna mengawasi teknis penuangan cor dan memastikan hasil akhir benar-benar sesuai dengan spesifikasi.   Realisasi infrastruktur ini merupakan wujud nyata pemanfaatan anggaran Dana Desa (DD) Tahap 1 Tahun Anggaran 2026. Total dana yang dialokasikan dalam proyek ini adalah sebesar Rp 60.652.500,- yang sudah mencakup keseluruhan biaya pengadaan material, upah pekerja, serta pajak.   Dengan terbukanya kembali akses Gg. RT 13, mobilitas dan konektivitas antar-dusun kini menjadi jauh lebih lancar. Masyarakat kini bisa menikmati akses yang nyaman menuju area pemakaman serta kelancaran distribusi untuk mendukung perputaran roda ekonomi.   Pemerintah Desa Bondansari menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh warga atas pengertian dan kesabarannya selama masa penutupan jalan kurang lebih tiga minggu ke belakang. Waktu jeda pengeringan (curing) tersebut sangat krusial agar beton tidak mudah retak dan awet digunakan. Kini, fasilitas jalan telah terbangun dengan baik. Pemdes mengimbau seluruh masyarakat untuk bersama-sama merawat dan menjaga jalan baru ini agar manfaatnya dapat terus dirasakan dalam jangka waktu yang panjang.

Tim Kecamatan Wiradesa Lakukan Monitoring Pembangunan Fisik Tahap II dan Bantuan Provinsi 2025 di Desa Bondansari
31 Maret 2026
Tim Kecamatan Wiradesa Lakukan Monitoring Pembangunan Fisik Tahap II dan Bantuan Provinsi 2025 di Desa Bondansari

BONDANSARI.OR.ID - Pemerintah Kecamatan Wiradesa melaksanakan kunjungan kerja ke Desa Bondansari dalam rangka melakukan monitoring dan evaluasi (monev) terhadap hasil pelaksanaan pekerjaan fisik desa. Kegiatan ini difokuskan pada pengecekan proyek pembangunan Dana Desa Tahap II serta realisasi Bantuan Keuangan (Bankeu) Provinsi Jawa Tengah Tahun Anggaran 2025.   Kunjungan peninjauan ini dipimpin langsung oleh Kasi Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD), Ibu Indri dan Bapak Supardjo. Turut mendampingi dalam kegiatan tersebut, jajaran Kepala Dusun (Kadus) se-desa Bondansari yang memandu rombongan meninjau langsung ke titik-titik lokasi pembangunan.   Dalam agenda monitoring ini, tim kecamatan memfokuskan pengawasan pada tiga sektor utama pembangunan infrastruktur yang krusial bagi warga. Ketiga fokus tersebut meliputi: Betonisasi Jalan Gang: Peningkatan kualitas jalan lingkungan untuk memperlancar mobilitas warga sehari-hari. Pembangunan Jalan Usaha Tani (JUT): Akses jalan strategis di area persawahan yang dibangun untuk mempermudah para petani dalam mengangkut hasil panen dan menekan biaya operasional pertanian. Pembangunan Drainase: Penataan sistem saluran air yang terpadu guna mencegah genangan dan menjaga kesehatan lingkungan permukiman warga.   Perwakilan tim dari Kecamatan Wiradesa menyampaikan bahwa kegiatan monitoring ini merupakan agenda rutin yang wajib dilakukan untuk memastikan seluruh dana desa dan bantuan dari provinsi diserap secara optimal. Pengecekan dilakukan tidak hanya pada aspek kelengkapan administrasi, tetapi juga pada kualitas konstruksi fisik di lapangan agar sesuai dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang telah ditetapkan.   Pemerintah Desa Bondansari berharap, dengan selesainya berbagai proyek infrastruktur di Tahap II dan Bankeu Provinsi 2025 ini, roda perekonomian desa dapat bergerak lebih cepat. Akses transportasi yang memadai dan lingkungan yang tertata diharapkan mampu membawa dampak positif yang signifikan bagi peningkatan kesejahteraan seluruh elemen masyarakat Desa Bondansari.

Kepala Desa Hadiri Tarhib Ramadhan Fest, Ribuan Warga Kompak Sambut Bulan Suci
24 Februari 2026
Kepala Desa Hadiri Tarhib Ramadhan Fest, Ribuan Warga Kompak Sambut Bulan Suci

BONDANSARI.OR.ID – Kepala Desa Bondansari turut hadir memeriahkan dan mengawal langsung jalannya acara "Tarhib Ramadhan Fest" yang digelar pada Minggu malam, 15 Februari 2026. Acara yang berlangsung sejak pukul 20.00 hingga 24.00 WIB tersebut menjadi momen istimewa bagi warga desa dalam menyongsong datangnya bulan suci Ramadhan tahun ini.   Kemeriahan acara ini terlihat dari membludaknya jumlah warga yang hadir. Berdasarkan perhitungan panitia penyelenggara, tercatat sebanyak 1.491 peserta ikut ambil bagian dalam festival ini.   Hal yang paling membanggakan dari perhelatan ini adalah tingginya rasa persaudaraan dan toleransi antarwarga. Peserta yang hadir merupakan delegasi dari masing-masing masjid dan musala se-Desa Bondansari. Seluruh elemen masyarakat Islam berbaur menjadi satu, baik itu dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, maupun Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). Semuanya guyub rukun menyambut bulan penuh ampunan.   Di tengah kemeriahan acara, Kepala Desa Bondansari berkesempatan memberikan sambutan dan pesan moral kepada ribuan warganya. Beliau menekankan agar euforia penyambutan ini sejalan dengan niat ibadah di bulan puasa nanti. "Saya sangat mengapresiasi kebersamaan malam ini. Namun, harapan saya, Ramadhan ini bukan hanya sekadar disambut dengan meriah, namun ibadahnya harus benar-benar dijalankan dengan penuh rasa ikhlas dan semangat sampai sebulan penuh," tutur Kepala Desa.   Rangkaian acara Tarhib Ramadhan Fest ini dikemas dengan kegiatan yang merakyat dan penuh suka cita. Beberapa sorotan utama dalam acara ini antara lain: Pawai Obor: Ribuan warga berjalan bersama mengelilingi rute yang telah ditentukan sambil membawa obor, menerangi langit malam Desa Bondansari dengan cahaya dan lantunan selawat. Bagi-bagi Doorprize: Untuk menambah antusiasme warga, panitia juga menyediakan berbagai doorprize menarik yang diundi dan dibagikan di sela-sela acara. Acara pun ditutup dengan tertib pada tengah malam. Dengan suksesnya Tarhib Ramadhan Fest ini, diharapkan warga Desa Bondansari semakin kompak dan siap secara spiritual untuk menjalankan ibadah puasa.

Kenali WIlayah RT, RW dan Dusun di Desa Bondansari
26 Januari 2026
Kenali WIlayah RT, RW dan Dusun di Desa Bondansari

BONDANSARI.OR.ID - Bondansari terdiri dari beberapa sub wilayah dusun, rukun warga (RT) dan rukun tetangga (RT): Dusun KebonanRT 001 RW 001RT 002 RW 001RT 003 RW 001RT 004 RW 002RT 005 RW 002 Dusun GendogoRT 006 RW 003RT 007 RW 003RT 008 RW 003RT 009 RW 003 Dusun BondanRT 010 RW 004RT 011 RW 004RT 012 RW 004 Dusun PenggilinganRT 013 RW 005RT 014 RW 005RT 015 RW 005  

Jangan Salah Paham, Dana Desa Tidak Digunakan Untuk Ini
24 Januari 2026
Jangan Salah Paham, Dana Desa Tidak Digunakan Untuk Ini

BONDANSARI.OR.ID - Peraturan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Permendes PDT) Nomor 16 Tahun 2025 tentang Petunjuk Operasional Atas Fokus Penggunaan Dana Desa 2026 menyatakan dengan tegas, ada delapan larangan penggunaan dana desa:   Dana Desa dilarang digunakan untuk: Pembayaran honorarium bagi kepala Desa, perangkat Desa, dan/atau anggota Badan Permusyawaratan Desa; Biaya perjalanan dinas kepala Desa, perangkat Desa, dan/atau anggota Badan Permusyawaratan Desa ke luar wilayah kabupaten/kota; Pembayaran iuran jaminan sosial kesehatan dan ketenagakerjaan bagi kepala Desa, perangkat Desa, dan/atau anggota Badan Permusyawaratan Desa; Pembangunan kantor atau balai desa, kecuali untuk kegiatan rehabilitasi atau perbaikan ringan dengan nilai maksimal Rp25.000.000,00 (dua puluh lima juta rupiah); Penyelenggaraan bimbingan teknis bagi kepala Desa, perangkat Desa, dan/atau anggota Badan Permusyawaratan Desa; Penyelenggaraan bimbingan teknis dan/atau studi banding ke luar wilayah kabupaten/kota; Pembayaran kewajiban tahun sebelumnya, sebagaimana diatur dalam Surat Edaran Bersama (SEB) Menteri Desa dan PDTT, Menteri Keuangan, dan Menteri Dalam Negeri (Nomor 9 Tahun 2025, Nomor SE-2/MK/08/2025, dan Nomor 100.3.2.3/9692/SJ/2025) terkait tindak lanjut PMK mengenai pengalokasian, penggunaan, dan penyaluran Dana Desa TA 2025; Pemberian bantuan hukum bagi kepala Desa, perangkat Desa, anggota Badan Permusyawaratan Desa, maupun warga Desa yang sedang berperkara di pengadilan untuk kepentingan pribadi.

Anomali Rupiah Melemah saat IHSG Naik, Ini Kata Purbaya
22 Januari 2026
Anomali Rupiah Melemah saat IHSG Naik, Ini Kata Purbaya

BONDANSARI.OR.ID - Arah pergerakan pasar keuangan Indonesia tengah menunjukkan kondisi yang tidak biasa. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menorehkan rekor tertinggi sepanjang masa, namun di saat yang sama nilai tukar Rupiah justru mengalami tekanan hingga berada di level terlemah. Menanggapi kondisi tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai situasi ini tidak perlu disikapi dengan kekhawatiran berlebihan karena fundamental perekonomian nasional dinilai masih solid.   Purbaya menegaskan bahwa persoalan teknis terkait pelemahan nilai tukar Rupiah sebaiknya ditanyakan langsung kepada Bank Indonesia sebagai otoritas moneter. Ia menilai secara teori, derasnya aliran modal asing atau capital inflow ke pasar saham seharusnya mampu memberikan penguatan terhadap mata uang. “Silakan tanyakan ke Bank Sentral mengenai apa yang terjadi. Ketika arus modal masuk besar, mengapa Rupiah justru melemah, itu menjadi kewenangan Bank Indonesia untuk menjelaskannya,” ujar Purbaya di kawasan Djuanda, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.   Lebih lanjut, Purbaya menyampaikan bahwa penguatan IHSG menjadi bukti konkret masuknya dana investor asing ke Indonesia. Kondisi tersebut mencerminkan kepercayaan pelaku pasar global yang masih tinggi terhadap prospek dan ketahanan ekonomi domestik di tengah dinamika ekonomi global.

DLH Kabupaten Pekalongan Angkut Sampah Penyebab Banjir di Jembatan Kolong Doro
22 Januari 2026
DLH Kabupaten Pekalongan Angkut Sampah Penyebab Banjir di Jembatan Kolong Doro

BONDANSARI.OR.ID - Pada hari ini, Rabu (22/1), tumpukan sampah yang menyumbat aliran air di kawasan Jembatan Kolong Doro berhasil diangkut oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pekalongan. Pembersihan dilakukan sebagai respons atas kondisi banjir yang terjadi akibat penumpukan sampah rumah tangga dan material lainnya yang terbawa arus, sehingga menghambat kelancaran aliran sungai di bawah jembatan tersebut.   Kegiatan pengangkutan sampah ini dilaksanakan oleh petugas DLH Kabupaten Pekalongan dengan menggunakan tenaga lapangan dan kendaraan angkut. Proses pembersihan turut didampingi oleh Didik Nuryadi selaku kepala dusun setempat yang memantau langsung jalannya kegiatan, sekaligus memastikan pembersihan dilakukan secara menyeluruh agar potensi banjir susulan dapat diminimalkan.   Didik Nuryadi mengimbau masyarakat sekitar untuk lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan, terutama ke aliran sungai. Ia berharap, melalui kegiatan ini, kondisi lingkungan di sekitar Jembatan Kolong Doro kembali bersih dan aliran air dapat berjalan normal, sehingga kejadian banjir serupa tidak terulang di kemudian hari.